Tampilkan postingan dengan label Nasehat Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2016

Menolong Sesama Mahluk Allah SWT, Maka Allah SWT Akan Menolongmu.


Sahabat...!!! bila engkau ingin ditolong Allah, maka tolonglah sesama makhluk.
Allah pasti akan membalas menolongmu.

"Hal jaza'ul ihsan illal ihsan".
Balasan kebaikan adalah kebaikan. 

Bila urusanmu ingin dimudahkan Allah, maka mudahkan urusan orang lain.

Orang yang suka menolong. Hidupnya akan dapat banyak pertolongan, walau tidak berdo'a.

Orang yang suka memudahkan.
Hidupnya akan diberikan oleh Allah banyak kemudahan, walau tidak minta.

Orang yang pelit, egois, tidak peduli kepentingan orang lain.
Hidupnya akan penuh rintangan, walau banyak berdoa...

Semoga Allah berikan taufiq kepada kita bersama untuk melakukan hal hal yang diridhoi dan disukaiNya.

®KH. Muhammad Fakhruddin Al Bantani, S. HI.

“Betulkah kau mengambil uang anakmu tanpa seizinnya?”

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw mengadukan ayahnya yang menghabiskan uang miliknya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya* .

Rasulullah Saw memanggil ayah orang itu ke hadapan beliau. Ketika lelaki jompo itu datang dengan tertatih-tatih bersandar pada tongkatnya, Rasulullah Saw bertanya:

*“Betulkah kau mengambil uang anakmu tanpa seizinnya?”*

“Wahai Nabi Allah,” lelaki itu menangis, “ketika aku kuat dan anakku lemah, ketika aku kaya dan dia miskin, aku tidak membelanjakan uangku kecuali utk memberi makan kepadanya, bahkan terkadang aku membiar kan diriku kelaparan asalkan dia bisa makan."

*"Sekarang aku telah tua dan lemah sementara anakku tumbuh kuat. Aku telah jatuh miskin sementara anakku menjadi kaya. Dia mulai menyembunyikan uangnya dariku"*

"Dahulu aku menyediakan makan untuknya tapi sekarang dia hanya menyiapkan makan untuk dirinya. Aku tak pernah  seperti dia memperlakukan aku."

"Jika saja aku masih sekuat dulu, aku masih akan merelakan uangku untuk dia.”

*Ketika mendengar hal ini, air mata Rasulullah  Saw jatuh berlinang seperti untaian mutiara menimpa janggutnya yang suci* .

“Baiklah,” Rasulullah Saw berkata, “Habiskan seluruh uang anakmu sekehendak hatimu. Uang itu milikmu…”

Saudara-saudaraku,

*Apakah orang tua Anda masih hidup?? Ingat, surga Anda ada di bawah telapak kaki mereka. Mungkin kesempatan Anda untuk berbakti kepada mereka tidak begitu lama lagi.  Sangat dianjurkan Anda yang tinggal jauh dari orang tua, pulanglah. Temui dan pandang wajah mereka dgn penuh cinta yg tulus, krn boleh jadi wajah itu tidak akan lama lagi menghilang dari pandangan Anda utk selama-lamanya..* .

#Semoga bermanfaat

Minggu, 03 Mei 2015

Muslim Menyayangi Saudaranya, Seperti Ia Menyangi Dirimya Sendiri.

Sahabat..! Bersholawat….. demi iman menjadi kuat…. Meski goncangan hidup terasa berat….

Bersholawatlah.. Demi mampu meneladani akhlak sahabat…. Anak anak didik Rasulullah SAW sang pemberi syafa’at….

Inilah kisah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Sabtu, 02 Mei 2015

Sudahkah Engkau Bersiap Diri

Sahabat..! Renungkanlah

Diantara kalamnya Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.
Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menguburkanmu. Dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasihatmu pada suatu hari.....

Jumat, 01 Mei 2015

Dengan sholawat… imanmu bertambah kuat

Sahabat..!
Jika iman telah kuat, maka hidup seseorang akan tangguh menghadapi pengaruh sifat buruk yang dihembuskan syaitan termasuk syetan dalam bentuk manusia. Diantara sifat buruk yang kita kenal adalah tamak (Rakus), yaitu sifat yang berlawanan dengan Qanaah (puas hati atau menerima dengan lapang dada).

Sifat rakus terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya.

PERMENNYA MASIH TERASA MANIS DI LIDAH

Sahabat..! 
Demikianlah, buah dari pengamalam kalamnya Imam Ghazhali rahimahullah dalam kitab bidayatul hidayahnya : 

"Janganlah engkau berharap….. dapat memanen, sesuatu yang engkau tidak menanamnya".

dihikayatkan bahwa suatu ketika seorang lelaki tua terbaring lemah di sebuah rumah sakit....

Sabtu, 04 April 2015

Lakukanlah Hal-hal yang Bermanfaat


‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”
‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:
“Sseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”

Introspeksi Diri


Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri kerena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.”

Selasa, 17 Maret 2015

Kisah Nyata Seorang Anak

Sahabat...inilah sebuah kisah nyata yg in sha Allah baik tuk renungan dan motivasi kita bersama...
Sahabat Nas rocha menyampaikan sebuah kisah nyata yg disampaikan oleh Khotib sholat Jumat di Graha CIMB Niaga jalan Sudirman. Semoga kisah ini dapat menjadi tambahan penerang bagi qolbu ke-imanan dan ke-taqwaan kita bersama.

Kamis, 12 Maret 2015

Membangun Ketaatan Diri

Duhai Sahabat budiman, Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun hendaknya engkau mengoreksi diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada Allah. (Ibnu Athailah)

Setiap orang pasti memiliki harapan. Namun tidak semua harapan bisa diwujudkan. Walau mungkin kita telah optimal berusaha atau dan berulang kali memanjatkan berdoa. Bila demikian apa yang salah, ikhtiarnya-kah atau doanya?

Saudaraku, sangat bijak bila kita tidak terburu-buru menyalahkan atau berburuk sangka kepada Allah, saat doa-doa kita belum terkabul. Sebab, tidak ada yang menghambat ijabahnya doa dan datangnya pertolongan Allah selain diri kita sendiri. Ada nasihat menarik dari Ibnu Athailah, Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun hendaknya engkau mengoreksi diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada Allah.
Jadi, terhambatnya pengabulan doa bukan karena Allah tidak mau memberi. Penyebab utamanya ada pada diri kita sendiri yang tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhi hak-hak Allah. Karena itu, kita harus mulai mengoreksi diri. Sudah benarkan ibadah kita? Sudah totalkan pengharapan kita kepada Allah? Sudah bersungguh-sungguhkan kita dalam taat kepada Allah? Kalau belum, jangan menyalahkan siapa
pun bila pertolongan Allah belum menghampiri kita.

Penjabarannya, lihat ibadah kita, apakah sudah benar dan optimal. Apakah kita tergolong orang yang gemar melakukan amal-amal yang disukai Allah: mencintai masjid, menjaga shalat berjamaah dan tepat waktu, tahajud, bersedekah dalam senang atau susah, gemar menolong orang, zikir setiap waktu, dsb. Bila untuk kewajiban-kewajiban utama saja kita kurang bersungguh-sungguh, maka bagaimana mungkin pertolongan Allah akan datang?

Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya, jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika ia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi. (HR Bukhari).
Menurut hadis ini kunci datangnya pertolongan Allah, kunci pembuka pintu-pintu rezeki, ilmu dan segala kebaikan, adalah ketakwaan dan kesungguhan kita melaksanakan amal-amal yang dicintai Allah. Dalam QS Ath Thalaaq [65] ayat 2-3, Allah SWT menegaskan, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Saudaraku, membangun ketaatan kepada Allah dalam ibadah-ibadah fardhu dan sunat plus keterkaitan hati kepada-Nya adalah fondasi dasar bangunan keimanan seorang hamba. Tanpa adanya fondasi ini, tidak berguna ketinggian ilmu, kecanggihan manajemen, optimalnya ikhtiar atau melimpahnya kekayaan. Semuanya akan berujung padabbencana dan keputusasaan.

Saudaraku, perlu ditegaskan lagi bahwa tugas kita ada tiga. Pertama, meluruskan niat. Kedua, menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, bertawakal sepenuh hati kepada Allah. Andai kita sudah melaksanakan semua itu, namun apa yang kita dapatkan belum juga sesuai keinginan, maka yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sekecil apapun amal hamba-Nya. Allah pasti akan memberikan yang terbaik.
Kewajiban hanyalah berusaha dan berproses secara optimal dalam koridor yang telah ditetapkan. Hasil sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Wallaahu a`lam...

https://m.facebook.com/profile.php?id=226224114114784

#MLA


Rabu, 11 Maret 2015

Ingin Kaya..!?, Di sini ada Kuncinya...

Islam Didaktika

Sahabat..! Seorang kakek, dimintai oleh cucunya amalan agar menjadi kaya……

Sang kakek tersenyum dan berkata :
cucuku….emang ada apa dengan kehidupanmu…. ?
Masih susah..????
apakah kaya itu dimatamu sama dengan bahagia ?
apakah orang kaya itu pasti hidupnya tentram…???
Apakah kaya itu pasti dimata Allah sama dengan Mulia..????
Apakah miskin di mata Allah sama dengan hina..????
Apakah miskin sama dengan susah…????
Apakah orang miskin pasti hidupnya tak dapat ketentraman…???

Sang cucu, memotong perkataan si kakek dan berkata :
kakek, pokoknya saya mau kaya… titik….
Ga mau saya jawab pertanyaan pertanyaan itu….
Cepet berilah aku amalan agar aku kaya…. Aku pengen kaya ….. kaya dan kaya….

Sang kakek berkata : sabar doonk…. Sabar…. ya, nanti kakek kasih amalannya….
Namun sebelumnya, kakek mau berpesan dulu…sebagaimana guru kakek berpesan, tentang makna kekayaan…
Cucuku yang tersayang….
Kekayaan itu adalah bisa bermakna dua.
Ada kalanya ia adalah sebuah UJIAN dan adakalanya memang merupakan hadiah atau IMBALAN.
Tapi masalahnya, kita tak pernah tahu, kekayaan yang kita miliki itu, termasuk kategori yang mana, ujian ataukah hadiah. kalau kekayaan itu adalah hadiah, maka akan mudah saja, engkau berterimakasih kepada Allah maka sudah beres. Tak akan ada efek samping yang akan engkau rasakan.
Namun, apabila kekayaan yang kamu peroleh itu sebagai ujian, maka engkau harus hati-hati. Sebab kalau engkau gagal dalam ujian tersebut, engkau akan
menjadi makhluk paling menderita selamanya.
Sudah banyak contoh yang terjadi, banyak orang yang terpeleset dan keblinger akibat kekayaan mereka dan tidak menyadari bahwa kekayaan tersebut adalah ujian. Dan dengarkanlah, sangat sedikit sekali manusia yang mendapatkan imbalan berupa kekayaan.
Jujur, sebagian besar kekayaan itu adalah ujian. Karena itu, pesanku padamu, pandanglah kekayaan itu sebagai ujian….
Sekali lagi pandanglah kekayaan itu sebagai ujian…..

Dilain sisi tentang kekayaan….
Perlu kamu ketahui, kekayaan itu ada tiga,
Pertama, ada kaya lahir, miskin hati….
Kedua, ada kaya hati… miskin pada lahiriyahnya….
Ketiga, ada kaya hati dan kaya pula pada lahirnya…..
Kaya lahir itu sesungguhnya kekayaan semu…… meski begitu, kekayaan ini yang banyak diminta oleh banyak orang… dianggap derajatnya naik….. dianggap derajatnya ningkat…..

Padahal kalau mau diinsafi, Kekayaan lahir itu adalah derajat yang sebetulnya tidak berderajat. Tidak punya nilai derajat….
Dunia itu tak pernah dipandang oleh Allah sejak diciptakan Sebab dimata Allah, makhluk tidak akan lebih dari makhluk. Bagi sesama makhluk, sepintas selalu, tentu saja pemahaman itu akan sulit diterima.

Namun, kakek mau tanya, Pernahkah kamu menyamakan dirimu dengan anjing budukan yang ada di sebelah rumahmu?
Maukah kamu aku disejajarkan dengan iblis. Relakah kamu ?
Aku kira, aku telah mendapatkan jawabannya tanpa perlu engkau jawab.
Karena itu cucuku yang tersayang….., usaha dalam berspiritual itu memang berat, terlebih ketika totalitas kita dituntut dalam usaha tersebut."
Cucuku, itulah beberapa pesan yang harus engkau perhatikan dan engkau pahami.
Kakek bukan orang yang lebih hebat segala-galanya, namun kakek hanya berusaha menyampaikan kepadamu apa yang kakek pahami dari pesan para guru kakek.

Cucuku.. anakku yang tersayang…. jalanmu masih teramat panjang dan bukan saatnya engkau berdiri mematung dan kemudian merasa telah selesai…
Jangan meratapi kemiskinan, jangan larut dalam kesedihan, jangan menyalahkan keadaan….
Karena itu semua menambah banyak keluhan….. dan bukan mendatangkan ketentraman… malah merasa diri orang yang paling sengsara sedunia….
Tidak elok jadi hamba Allah bersikap begitu….
Tidak sopan dimata Allah mengisi hari dengan banyak ratapan…..

Kakek…… mana amalannya….?????? kata si cucu

kakek pun menjawab : Ya sudah……nih amalan agar kaya…..
Bila telah berhasil, jangan engkau artikan sebagai awal dari masa kejayaan dalam hidupmu.
Ingat, Apabila engkau amalkan amalan ini dan ternyata diterima oleh Allah dan engkau menjadi kaya raya, maka ingatlah cucuku pesan pesan kakek barusan."

"Kesinilah cucuku….,
Bukalah kedua tanganmu…….
Nich RATIB HADDAD

Buka lagi tangan yang satunya doonk….
Nich…..SHOLAWAT KASYFUL GHUMMAH
Kau pegang keduanya dengan tanganmu yang erat
Peluklah… jangan sampai engkau lepaskan…..
Keduanya adalah amalan yang kau inginkan…..agar cepat kaya raya….. Moga dengan terus engkau peluk, engkau akan kaya hati dan kaya lahir…….dimana dengan kekayaan itu, engkau dapat membantu jalan jalan kebaikan yang terbentang…

Sudah yah………………
Assalaamu ‘alaikum……………………………

https://m.facebook.com/profile.php?id=226224114114784

Rabu, 04 Maret 2015

Akan Indah pada Saatnya...


Sahabat..! kali ini, kita kembali menyelami kandungan satu butir dari butiran-butiran mutiara Ratib Haddad, kita baca terlebih dahulu…….
رضينا بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا
Sengaja saya tidak tulis terjemahannya… karena saya anggap antum semua sudah mengetahuinya…..

Rabu, 24 Desember 2014

RAHASIA IBLIS


 

Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.

Kamis, 09 Oktober 2014

MULIAKANLAH IBU MU ...

Sahabat..! Karena doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu…!!!

Dengan mengingat Ibu, hati kita jadi menangis, Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.


BUKANLAH tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kenapa ? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.


Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.


Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.


Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.


Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.


Wallahu a'lam.


Referensi Taman Ilmu dan Hikmah :
https://www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784?fref=nf
www.islamdidaktika.web.id

BERTOBATLAH HINGGA BOSAN BERBUAT DOSA

Sahabat..! Baginda kita Rasulullah saw pernah bersabda "Beramallah dari amal amal semampu kalian, sungguh Allah swt tidak pernah bosan hingga kalian sendirilah yang bosan".

Para arifbillah kerap menangis mendengar hadits ini. Hadits ini sangat indah, sebuah kabar dari Rasulullah saw kepada kita yang mengisyaratkan ternyata Allah itu sangat sayang kepada kita.

Innallaha la yamallu hatta tamalluu (HR> Al Bukhari)
Sungguh Allah tiada akan pernah bosan sampai kalian sendiri yang bosan).
Lalu, Apa maksud dari hadits ini?

Maksudnya adalah bahwa Allah itu tak pernah bosan untuk menunggu taubat kita, Allah terus menunggu dan menunggu hamba-Nya untuk kembali bertaubat tetapi kitalah hamba-hamba-Nya yang justru bosan untuk bertobat kepada-Nya.

Setiap pendosa siapapun dia yang ingin selalu bertaubat, Allah tidak akan bosan untuk menerima taubatnya, sebesar apapun dosanya.

Setiap orang yang bersalah memohon maaf kepada Allah, Allah tidak akan bosan memaafkannya. Kita ini makhluk lemah, siang malam berbuat dosa maksiat, namun Allah tidak akan bosan mendengar doanya.

Hamba yang beribadah siang dan malam, Allah tiada akan pernah bosan untuk menerima ibadah hamba-Nya. Manusia memiliki sifat bosan.

Kita ini bukan nabi yang ma’sum dan bukan pula malaikat yang suci, kita manusia biasa, selalu kalah dari hawa nafsu, pernah melakukan dosa, kita selalu berbuat dosa dan Allah Maha memaklumi hal itu, yang penting apa? yang penting kita mengakui itu, kita akui semua dosa-dosa kita kepada Allah swt. Kita akui segala kelemahan kita dalam melawan hawa nafsu. Kita berusaha untuk bertobat dengan sungguh sungguh menyesali dosa, lalu setelah tobat misalnya kita tergelincir lagi, maka bertobatlah, berdosa lagi bertobatlah lagi, Allah tidak bisa bosan menerima taubat hamba Nya,
karena Allah Maha Tahu Hamba Nya selalu akan berbuat dosa kecuali para Nabi dan Rasul.

Taubat yang sebenarnya adalah menyesali dosa, tak pernah merasa bangga melakukannya apalagi sampai bercerita kesana-sini dengan bangganya. Meminta ampun dan maaf pada Allah, lalu bertekad semampunya untuk tak lagi mengulangi dosa, namun boleh saja sambil berdoa : Wahai Allah, aku bertekad tak lagi mengulangi dosa ini, namun diriku ini penuh kelemahan, aku tak berniat berbuat lagi, namun jika aku terjebak lagi maka itu dari kelemahanku, ampunkan aku wahai Allah, maka aku akan bertobat lagi pada Mu wahai Allah, aku akan buktikan bahwa aku selalu setia pada Mu wahai Allah.

Kita mungkin masih ingat akan syair Abu Nuwas.

"Wahai Tuhanku… aku sebenarnya tak layak tuk masuk surgamuMU, tapi aku juga tak sanggup menahan amuk nerakamu, Karena itu mohon terimalah taubatku ampunkan dosaku, Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar.

Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir, Maka berilah ampunan oh.. Tuhanku Yang Maha Agung. Setiap hari umurku terus berkurang, Sedangkan dosaku terus menggunung. Bagaimana aku menanggungnya.

Wahai Tuhan, hambaMU yang pendosa ini, Datang bersimpuhkehadapanMU. Mengakui segala dosaku, Mengadu dan memohon kepadaMU, Kalau Engkau ampuni itu karena, Engkau sajalah yang bisa mengampuni. Tapi kalau engkau tolak, kepada siapa lagi kami memohon Ampun selain kepada Engkau.”

Kita ini layaknya selalu bertobat hingga bosan berbuat dosa, bukan selalu berdosa hingga bosan bertobat.

Yang tidak boleh apa? yang tidak boleh adalah sudahlah berbuat dosa namun tak pernah sadar, tak pernah mau bertaubat, malah merasa bangga dengan perbuatan dosanya itu, ini kesombongan.

Semoga Allah menjaga kita dari sifat sombong. Aamiin.
Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam.


Referensi :
https://www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784?fref=nf

Sabtu, 04 Oktober 2014

Hikmah Monyet yang Ter Perangkap

Islam Didaktika

Sahabat..! Malam ini, malam Arofah, malam semstinya kita dapat mengenal Semua
Semua yang diciptakan oleh Allah layak dikonsumsi…… hanya ada yang bisa dikonsumsi oleh lidah…. Sehingga hukum mengatakan halal. Dan Ada pula yang bisa dikonsumsi oleh akal, sebagai bahan perenungan….. sebagai ‘ibroh bagi yang mau merenunginya….. misalnya MONYET…. hukumnya haram untuk dimakan… Namun ada banyak nasehat dibalik penciptaannya….

Konon, disebuah desa, hiduplah penduduk dengan kebiasaan gemar menangkap monyet dalam keadaan hidup. Monyet ini ditangkap bukan untuk di makan, melainkan untuk di jual dalam keadaan hidup kepada kelompok sirkus topeng monyet, untuk digunakan dalam pertunjukkan tentunya. Cara penangkapannya sederhana saja, namun unik. Para penduduk umumnya hanya menggunakan kaleng cat bekas yang diisi dengan sisir-sisir pisang. Kaleng di isi pisang lalu ditutup dan diikat dibagian atasnya. Setelah ditutup, tutupnya dilobangi seukuran tangan monyet bisa lolos dilobang itu.
Perangkap ala kadarnya itu dibawa ke pinggiran hutan, dan dimasukkan kedalam tanah yang digali. Perangkap ditanam, namun lobang tutupnya dibiarkan dalam keadaan terbuka, tidak di timbun tanah.
Para penduduk biasanya melakukannya di sore hari. Setelah di rasa cukup rapi dengan aroma pisang yang cukup tercium, perangkap pun ditinggalkan selama semalaman.
Pada pagi harinya, biasanya akan terlihat begitu banyak monyet yang terjebak didalam perangkap-perangkap tersebut. Masing-masing monyet dalam keadaan repot, terjebak didalam lobang, berusaha melepaskannya diri dan tangannya.

Kenapa tangannya bisa tersangkut?

Tentu kita sudah tahu jawabnya, monyet-monyet itu pada malam harinya begitu tertarik dengan aroma pisang yang merebak, yang keluar dari dalam kaleng cat. Mereka mencium, mencari, mengamati, mendekat, lalu memasukkan tangan untuk mengambil sisir-sisir pisang yang ada di dalam. Tapi karena tangan monyet sedang dalam posisi menggenggam sisir pisang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya, lalu ia memasukkan tangannya yang sebelah lagi, sehingga membuatnya semakin terjebak dikaleng cat itu.

Selama masih kukuh mempertahankan pisang-pisang itu, maka selama itu pula monyet-monyet itu akan terus terjebak disana. Sebab, kaleng cat yang ditimbun itu terlalu berat untuk diangkat oleh monyet. Jadi,monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !. Ia tak bisa menarik tangannya, tak semudah saat memasukkannya. Sebab disaat memasukkan tangan kedalam kaleng sang monyet melakukannya dalam keadaan tangannya masih kosong, sedangkan disaat menarik tangan, ukuran tangannya sudah menjadi lebih besar karena sedang menggenggam sisiran pisang.
Mungkin kita merasa geli melihat tingkah monyet-monyet yang amat lugu dan luccu itu. Alangkah bodohnya mereka. Kenapa tidak dilepaskan saja pisangnya agar ia bisa menarik tangannya dengan mudah, semudah saat ia memasukkannya?

hahahahahahaha…………………

Kita boleh tertawa geli, akan tetapi, sadarkah kita? mungkin saja kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Yup ……….kadang sikap kita tak jauh seperti monyet itu.
Kita selalu saja bersikukuh mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet mengenggam pisang.

Kita sering memelihara iri, hasud, dan dendam, terasa begitu berat memberi maaf. Mungkin mulut berkata ikhlas, tapi bara amarah dan kesumat masih menyala berkobar di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. dan tak mau melepasnya. Alangkah bodohnya kita, kita bahkan selalu memikul "kaleng kaleng cat" itu ke mana pun kita pergi.
Rasa benci, amarah, dendam, iri, dengki, sakit hati, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan beban seberat itu, kita berusaha untuk terus berjalan, melewati masa, menyusuri waktu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Sementara kita tak pernah sadar, bahwa kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Sahabat..!! Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya dan melepaskan pisang-pisang itu dan dia pun akan kembali bebas berkelana di hutan luas bergembira bersama kawannya yang lain, bisa tersenyum lepas tanpa beban amarah dan dendam. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika selalu ingin bertafakkur. Seandainya sebelum tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya betul-betul bersih. Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?.

Jadi lepaskanlah sekarang dan kita akan terbebas dari penjara ini dan kita akan bisa menikmati hidup ini dengan lebih indah dan penuh ketenangan serta ketentraman.

Percayalah….!!!!!!

Semoga bermanfaat,
wallahu a'lam

Senin, 19 Mei 2014

BILA DAPAT CAHAYA DARI CAHAYA DIATAS CAHAYA

Sahabat..! Demikianlah Luhurnya Hudzaifah, manusia yang dapat CAHAYA dari CAHAYA DIATAS CAHAYA (Anta Nurun Fauqo Nuri)

Jika kamu ingin digolongkan sebagai kaum muhajirin, maka kamu memang seorang muhajir (orang yang hijrah). Jika kamu ingin digolongkan kaum anshar, kamu memang seorang anshar. Pilihlah mana yang kamu sukai.”

Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam  kepada Hudzaifah Ibnul Yamani, ketika dia pertama kali bertemu muka dengan beliau Shallallahu’alaihi wassalam di Mekkah.

Mengapa demikian ??????
Mengenai pilihan itu, ada cerita tersendiri.

Berikut kisahnya. Al-Yaman adalah ayah Hudzaifah, ia berasal dari Bani Abbas di kota Mekkah. Karena terlibat hutang darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia minta perlindungan kepada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia kepada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani ‘Abd Asyhal. Kemudian dia menikah dengan anak perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Mekkah. Sejak itu dia bebas pulang pergi antara Mekkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Madinah.

Ketika Islam memancarkan cahayanya ke seluruh jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah seorang utusan dari sepuluh orang Bani Abbas, untuk menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan menyatakan Islam di hadapan beliau Shallallahu’alaihi wassalam. Peristiwa tersebut terjadi sebelum hijrah Rasulullah  ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu menurut garis keturunan ayah, maka Hudzaifah adalah orang Mekkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.

Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, Hudzaifah telah memeluk agama Islam sebelum bertemu Rasulullah .
Kerinduan Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memenuhi setiap rongga hatinya. Dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan menyimak kepribadian dan ciri-ciri Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Jika ada yang menceritakan hal itu kepadanya, cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam semakin bertambah.

Karena keinginan itu semakin menggebu-gebu, dia memutuskan untuk berangkat ke Mekkah menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Saat itulah ia bertanya kepada Rasulullah , “Apakah saya ini seorang Muhajir atau Anshar, ya Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam?”
“Jika kamu ingin disebut Muhajir, kamu memang muhajir, dan jika kamu ingin disebut Anshar, kamu memang orang Anshar. Pilihlah mana yang kamu suka!” ujar Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam.
“Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!” jawab Hudzaifah.

Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam perang Badar. Karena pada saat itu ia dan ayahnya sedang berada di luar kota Madinah dan ditangkap oleh kaum kafir Quraisy. Mereka tidak dibebaskan kecuali setelah berjanji untuk tidak memerangi kaum Quraisy. Namun ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, beliau memerintahkan untuk membatalkan perjanjian dan minta ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Karena itu, ketika terjadi perang Uhud, Hudzaifah  turut memerangi kaum kafir bersama-sama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam peperangan itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya meninggal dunia di medan Uhud. Yang sangat disayangkan, ayahnya mati syahid di tangan kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.

Ceritanya, pada hari terjadinya perang Uhud, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menugaskan Al-Yaman dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak, karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, “Bagaimana pendapatmu, apalagi yang harus kita tunggu? Umur kita sudah tua, tinggal menunggu detik saja. Kita mungkin saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik kita ambil pedang, lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh membantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Mudah-mudahan Allah  memberi kita rezeki menjadi syuhada bersama-sama dengan Nabi-Nya“. Lalu keduanya mengambil pedang dan terjun ke arena pertempuran.

Tsabit bin Waqsy syahid di tangan kaum musyrikin. Tetapi Al-Yaman, menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah  berteriak, “Itu bapakku!”, “Itu bapakku!”
Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya, sehingga bapaknya jatuh tersungkur oleh pedang teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya berdo’a, “Semoga Allah  mengampuni kalian, Dia Maha Pengasih dari yang paling pengasih.”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah kepada anaknya, Hudzaifah. Namun Hudzaifah menolak, “Bapakku menginginkan agar dia mati syahid. Keinginannya itu kini telah tercapai. Ya Allah, saksikanlah! Sesungguhnya saya menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.”

Mendengar pernyataan itu, penghargaan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam terhadap Hudzaifah bertambah tinggi dan mendalam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menilai dalam pribadi Hudzaifah terdapat tiga keistimewaan yang menonjol.

Pertama, cerdas tiada bandingan, sehingga dia dapat meloloskan diri dari situasi yang serba sulit.
Kedua, cepat tanggap, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya kapan saja.
Ketiga, cermat dan teguh memegang rahasia dan berdisiplin tinggi, sehingga tak seorang pun dapat mengorek keterangan darinya.

Sudah menjadi salah satu kebijak-sanaan Rasulullah , berusaha me-nyingkap keistimewaan para sahabat-nya, dan menyalurkannya sesuai dengan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yaitu menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.
Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang dilancarkan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan para sahabat. Dalam menghadapi kesulitan itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam mempercayakan sesuatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja.

Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menugaskan Hudzaifah memantau setiap gerak dan kegiatan mereka untuk mencegah bahaya yang mengancam kaum muslimin. Karena itu, Hudzaifah digelari oleh para sahabat dengan ‘Shahibu Sirri Rasulullah’ (pemegang rahasia Rasulullah).

Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang sangat berbahaya dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan berdisiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khandaq.

Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati. Bahkan menjadikan sebagian kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah .

Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik tidak lebih baik keadaannya daripada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, maka Allah Subhanahu wata’ala menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah Subhanahu wata’ala meniupkan angin topan yang sangat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kuali dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.

Dalam situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih dahulu mengeluh, dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan info-info secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan mengambil putusan dalam musyawarah.

Ketika itulah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memerlukan keterampilan Hudzaifah, untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau Shallallahu’alaihi wassalam memutuskan untuk mengirim Hudzaifah ke jantung pertahanan mush, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah kita dengarkan dia bercerita, bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut.

Hudzaifah bertutur, “Malam itu kami (tentara muslim) duduk berbaris. Saat itu, Abu Sufyan dan pasukannya kaum musyrikin Mekkah mengepung kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga desirnya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin pulang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah mereka terkunci.
Setiap orang yang meminta izin pulang, diperkenankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, tidak ada yang dilarang atau ditahan beliau Shallallahu’alaihi wassalam. Semuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap bertahan, hanya tinggal 300 orang.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berdiri dan berjalan memeriksa kami satu persatu. Setelah beliau sampai di dekatku, saya sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunya-an istriku, yang hanya dapat menu-tupi hingga lutut. Beliau mendekati-ku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “Siapa ini!”
“Hudzaifah!” Jawabku.
“Hudzaifah?” tanya Rasulullah minta kepastian.
Aku merapat ke tanah, malas ber-diri karena sangat lapar dan dingin, “Betul, ya Rasulullah!” jawabku.
“Ada beberapa peristiwa yang di-alami musuh. Pergilah ke sana de-ngan sembunyi-sembunyi untuk men-dapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera!” kata Be-liau memerintah.
Aku bangun dari ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk, de-ngan diiringi do’a Rasulullah , “Ya Allah, lindungilah dia dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas dan dari bawah.”
Demi Allah! setelah Rasulullah  berdo’a, ketakutan yang menghantui dalam dadaku, dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seke-tika, sehingga saya merasa segar dan perkasa. Tatkala saya memalingkan diriku dari Rasulullah , beliau me-manggilku dan berkata, “Hai, Hu-dzaifah! Sekali-kali jangan melaku-kan tindakan yang mencurigakan me-reka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku!”
Jawabku, “Saya siap, ya Rasulul-lah!”
Lalu saya pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Saya berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah saya anggota pasukan mereka. Belum lama saya berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba ter-dengar Abu Sufyan memberi koman-do.

“Hai pasukan Quraisy, dengarkan saya berbicara kepada kamu sekalian. Saya sangat khawatir apa yang akan kusampaikan ini didengar oleh Mu-hammad atau pengikutnya. Karena itu telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian ma-sing-masing!”
Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, saya segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya ber-tanya, “Siapa kamu?”
Jawabnya, “Aku si Anu anak si Anu!”

Sesudah dirasanya aman, Abu Su-fyan melanjutkan bicaranya, “Hai pa-sukan Quraisy, Demi Tuhan, sesung-guhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat me-ninggalkan kita. Angin topan menye-rang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah ka-lian sekarang, dan tinggalkan tempat ini. Saya sendiri akan berangkat se-karang.”
Selesai berkata begitu, Abu Suf-yan langsung mendekati untanya. Di-lepaskannya tali penambat binatang itu, lalu dinaiki dan dipacunya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah  tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sung-guh telah kubunuh Abu Sufyan de-ngan pedangku.

Aku kembali ke pos komando me-nemui Rasulullah . Kudapati beliau sedang shalat di tikar kulit, milik sa-lah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu kulaporkan kepada beliau sega-la kejadian yang kulihat dan kude-ngar. Beliau sangat senang dan ber-suka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah .

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang mu-nafik selama hidupnya. Sehingga ke-pada para khalifah sekalipun, yang mencoba mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Pada saat pemerintahan Umar bin Khattab , jika ada orang muslim yang me-ninggal, Umar  bertanya, “Apakah Hudzaifah  turut menyalatkan jena-zah orang itu?” jika mereka menja-wab, ada, beliau turut menyalatkan-nya. Bila mereka katakan tidak, beliau enggan menyalatkannya.

Pada suatu ketika, Khalifah Umar  pernah bertanya kepada Hudzai-fah dengan cerdik, “Adakah dianta-ra pegawai-pegawaiku orang muna-fik?”
Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”
Kata Umar, “Tolong tunjukkan ke-padaku, siapa?”
Jawab Hudzaifah, “Maaf Khalifah saya dilarang Rasulullah  menga-takannya.”
“Seandainya aku tunjukkan, ten-tu khalifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.
Selain itu, Hudzaifah juga adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dai-nawar, Hamadzan, dan Rai. Dia mem-bebaskan kota-kota tersebut bagi kaum muslimin dari genggaman ke-kuasaan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragam-an mushaf Al-Qur’an.

Ketika Hudzaifah sakit keras men-jelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya te-ngah malam. Hudzaifah bertanya ke-pada mereka, “Pukul berapa seka-rang?”
Jawab mereka, “Sudah dekat Su-buh.”
Kata Hudzaifah, “Aku berlindung kepada Allah, dari subuh yang me-nyebabkan saya masuk neraka.”
Kemudian dia bertanya, “Adakah Tuan-tuan membawa kafan?”
Jawab mereka, “Ada!”
Kata Hudzaifah, “Tidak perlu ka-fan yang mahal. Jika diriku baik da-lam penilaian Allah , Dia akan meng-gantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika saya tidak baik dalam pandangan Allah , Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuh-ku.”

Sesudah itu dia berdo’a, “Wahai Allah ! sesungguhnya Engkau tahu, bahwa saya lebih suka fakir daripada kaya, saya lebih suka sederhana dari-pada bermewah-mewahan, dan saya lebih suka mati daripada hidup.” Setelah mem-baca doa itu, ruhnya pun pergi meninggalkan jasadnya. Selamat jalan intel dan Pembisik Rasulullah

Rodhiyallahu ‘anhu wa ‘an jamii’isshohabah, wa ‘annaa ma’ahum birohmatika ya Arhamar Roohimiin