Skinpress Rss

Iman kepada Rasul

Secarik catatan pelajar dari Majlis Ilmu-Nya Allah SWT.
bersama : KH. Muhammad Fakhruddin bin Sofyan Al Bantani
"Semoga Allah SWT melimpahkan karunia Ridho, Kesejahteraan dan Keselamatan bagi Kita Bersama" Amiin ya robbal alamiin.

Sahabat ...
Disampaikan dan diterangkan kepada kami oleh Guru kami, Jawahirul Kalamiyah, karya Syeikh Thahir bin Saleh Al-Jazairi. Mengenai Iman kepada Para Rasul...

Rangkuman si pelajar...
Wajib bagi tiap-tiap orang beriman yang telah baligh untuk yakin dan percaya bahwa sesungguhnya Allah SWT mempunyai bbrapa Rasul yg di utus karena Rahmat dan Anugerah dari-Nya, untuk memberi kabar gembira berupa pahala bagi orang yg brbuat baik, dan menimbulkan rasa takut dg siksa bagi orang yg brbuat kejelekan, dan memberi keterangan kepada manusia apa yg mereka butuhkan untuk kepentingan agama dan dunia, dan memberi faedah kepada mereka apa yg dapat menyampaikan mereka kepada derajat yg mulia. Allah menguatkan para Rasul itu dg bukti2 yg nyata, dan mukjizat yg gemilang. Rasul pertama ialah Nabi Adam As, dan yang terakhir sekaligus penutup ialah Nabi Muhammad Saw.

Nabi ialah manusia yg diberi wahyu dg syariat agama, sekalipun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikan. Kalau ia di printah untuk menyampaikannya, maka ia disebut juga Rasul. Jadi setiap Rasul tentulah Nabi, dan tdk semua Nabi itu Rasul.

Syariat ajaran Nabi-nabi berubah-ubah sesuai kondisi...
Pokok ajaran tdklah berubah, yakni Tuhan Yang Maha Esa ialah Allah SWT dan Agama Islam...

Ciri-ciri / syarat Nabi atau Rasul :
»  Dari bangsa Manusia;
»  Berlatar belakang keluarga/ orang tua yang baik;
»  Tidak memiliki cacat fisik atau penyakit yang menjijikan;
»  Jenis kelaminnya laki-laki;
»  Di berikan Wahyu...
   - Nabi tdk di wajibkan menyampaikan ajaran/ wahyu-Nya;
   - Rasul di wajibkan menyampaikan ajaran/ wahyu-Nya.
»  Memiliki / di karuniakan Mukjizat (Sesuatu kejadian yg luarbiasa di dunia, keluarnya dari para Nabi/ Rasul sesudah menjadi Nabi. dan kejadian luarbiasa itu sesuai dg yg dikatakannya, serta tdk ada yg bisa menandingi.)

Sifat wajib yg dimiliki oleh para Nabi as. :
»  Shidiq (benar)
»  Amanah (dipercaya)
»  Tabligh (menyampaikan)
»  Fathanah (Cerdik).

sedangkan sifat yg mustahil bagi para Nabi as :
»  Kazib (dusta)
»  Ishyan (durhaka)
»  Kitman (menyembunyikan)
»  Ghaflah (pelupa)
Begitu pula mustahil bagi para Rasul, memiliki sifat yg dianggap oleh manusia termasuk tercela, sekalipun tdk tergolong dosa, seperti : mata pencaharian yg rendah, keturunan yg rendah, atau sifat-sifat yg menghilangkan hikmah diutusnya para Nabi itu, sperti tuli dan bisu.

Kesimpulannya :
»  JADIKANLAH KE 4 SIFAT-SIFAT WAJIB PARA NABI ITU JG MENJADI BAGIAN DARI PRIBADI KITA; ATAU SEDAPAT MUNGKIN MENGUPAYAKAN MEMILIKI TERBANYAK DARI SIFAT-SIFAT ITU;
»  BERUSAHALAH MATA AIR BAGI ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA DG BERBAGI ILMU /PENGETAHUAN YG BAIK BAGI UMAT, AGAR KITA DPT MENTAULADANI SIFAT-SIFAT TABLIGH PARA NABI;
»  BERUSAHALAH UNTUK MENJADI BAIK DAN BENAR, BENAR PADA PERKATAAN DAN PERBUATAN;

Terakhir.. Guru berpesan, perbanyaklah dg ini...
La hawla wala quwata illahbillahil aliyil adzim...

Note :
Catatan kecil ini tentulah masih amat kurang sempurna dan baik, tdk sebaik dan selengkap yg disampaikan oleh Guru kami. Semua ini tak lain semata karena masih banyaknya kekurangan dan keterbatasan si murid. Namun demikian semoga kelak Allah Swt karuniakan kpd diri, untuk kiranya dpt diberi petunjuk, kemudahan, dan pertolongan-Nya kembali seperti karunia-Nya di saat ini, untuk murid dapat menambahkan uraian panjang dan lengkap lagi dalam hal diri dan umat dpt memahami dan mengenal betul akan Iman Muslim kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Semoga dapat dipahami, dan membawa manfaat baik bagi diri kita bersama...

Penutup :
Guru kami sering berpesan dalam beberapa kesempatan...
me-ngajilah...ngaji....ngaji..., datanglah kepada majlis-majlis ilmu.
sebab hidup di dunia dan amaliah akhirat itu perlu dipelajari secara terus menerus...sepanjang hayat. Dimanapun majlis ilmu itu berada...

Wallahu a'lam bishawab...
semoga Allah Swt mengampuni segala kekeliruan diri kita bersama, dan berkenan memberikan petunjuk dan pertolongan--Nya...

Silahkan Dilanjutkan >>

Said Bin Musayyab

Suatu tahun, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan berhasrat untuk menunaikan haji ke Baitullah al-Haram dan berziarah ke Haramain yang mulia dan mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sampailah bulan Dzulqa’dah, beliau berangkat menuju ke bumi Hijaz disertai tokoh-tokoh Bani Umayah, para gubernurnya, pejabat pemerintah, dan sebagian anaknya. Rombongan bertolak dari Damaskus ke Madinah al-Munawarah tanpa tergesa-gesa. Setiap kali singgah di suatu tempat atau wilayah, mereka beristirahat sambil mengadakan majelis ilmu dan saling memberikan peringatan agar bertambah pengetahuannya tentang agama dan mengisi jiwa dengan mutiara hikmah dan nasihat yang baik.
Sampailah rombongan tersebut di Madinah al-Munawarah, Amirul Mukminin menuju tempat suci untuk memberi salam kepada penghuninya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau melakukan shalat di Raadhah asy-Syarifah. Beliau merasakan kesejukan, ketenangan, dan ketentraman jiwa yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Ingin rasanya beliau memperpanjang waktu kunjungannya di kota Rasulullah itu seandainya ada waktu luang.
Pemandangan yang paling mengesankan dan menarik perhatiannya di Madinah al-Munawarah itu adalah banyaknya halaqah ilmu yang memakmurkan masjid Nabawi. Di sana berkumpul para ulama besar dan tokoh-tokoh tabi’in bagaikan bintang-bintang bercahaya di ufuk langit. Ada halaqah Urwah bin Zubair, ada halaqah Sa’id bin Musayyab, dan ada halaqah Abdullah bin Utbah.

Suatu hari Amirul Mukminin terbangun dari tidur siangnya dengan tiba-tiba, tidak seperti biasanya. Lalu dipanggilnya penjaga, “Wahai Maisarah!” Maisarah menjawab, “Saya wahai Amirul Mukminin.” Beliau berkata, “Pergilah ke Masjid Nabawi dan undanglah salah satu ulama yang berada di sana untuk memberikan peringatan kepada kita.”
Maisarah bersegera menuju Masjid. Dia melihat seluruh sudut-sudut masjid namun tidak melihat kecuali satu halaqah yang dipimpin oleh seorang syaikh yang telah tua. Usianya tampak sudah lebih dari 60 tahun, wajahnya kelihatan memancarkan kewibawaan seorang ulama. Orang-orang nampak menaruh hormat dan takjub kepadanya.
Maisarah menghampirinya hingga dekat dengan halaqah tersebut lalu menunjukkan jarinya kepada syaikh tersebut. Akan tetapi orang itu menghiraukannya, sehingga akhirnya Maisarah mendekat dan berkata, “Tidakkah Anda melihat bahwa saya menunjuk Anda?”
Sa’id: “Anda menunjuk saya?”
Maisarah: “Benar.”
Sa’id: “Apa keperluan Anda?”
Maisarah: “Amirul Mukminin terbangun dari tidur lalu berkata kepadaku. ‘Pergilah ke Masjid Nawabi dan lihatlah kalau-kalau ada seseorang yang bisa menyampaikan hadis untukku, bawalah kemari’.”
Sa’id: “Aku bukanlah orang yang beliau maksud.”
Maisarah: “Tetapi beliau menginginkan seseorang untuk diajak bicara.”
Sa’id: “Barangsiapa menghendaki sesuatu, seharusnya dialah yang datang. Di masjid ini ada ruangan yang luas jika dia menginginkan hal itu. Lagipula hadis lebih layak untuk didatangi, akan tetapi dia tidak mau mendatangi.”
Utusan itu kembali dan melapor kepada amirul mukminin, “Saya tidak menemukan kecuali seorang syaikh tua. Saya menunjuk kepadanya, tapi dia tak mau berdiri. Saya mendekatinya dan berkata, “Amirul Mukminin terbangun dan lihatlah kalau-kalau ada seseorang yang bisa menyampaikan hadis untukku, bawalah kemari.” Tetapi dia menjawab dengan tenang dan tegas, “Aku bukan yang dia maksud dan masjid ini cukup luas kalau dia menginginkan hadis.”
Abdul Malik menghela nafas panjang. Dia bangkit lalu masuk ke rumah sambil bergumam, “Pasti dia adalah Sa’id bin Musayyab. Kalau saja engkau tadi tidak menghampiri dan mengajaknya bicara…”
Ketika Abdul Malik telah meninggalkan majlis dan masuk kamar, putranya yang bungsu bertanya kepada kakaknya, “Siapakah orang yang berani menentang Amirul Mukminin dan menolak untuk menghadap itu, sedangkan dunia tunduk kepadanya dan raja-raja Romawi gentar oleh wibawanya?”
Maka berkatalah saudaranya yang paling besar, “Dia adalah orang yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, al-Walid, tetapi dia menolak menikahkannya.”
Adiknya berkata heran, “Benarkah ia tidak mau menikahkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik? Apakah dia mendapatkan pasangan untuk putrinya yang lebih layak dari calon pengganti Amirul mukminin dan khalifah? Atau dia seperti orang-orang yang menghalangi putrinya untuk menikah dan tinggal menganggur di dalam rumah?”
Berkatalah sang kakak, “Sebenarnya aku tidak mengetahui berita tentang mereka.” Seorang dari pengasuh mereka, yang berasal dari Madinah berkata, “Sekiranya diizinkan, saya akan menceritakan seluruh kisah itu.”
“Gadis itu telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada’ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat kami.  Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis seperti yang diceritakan Abu Wada’ah sendiri kepada saya.” Orang-oarng berkata, “Ceritakanlah kepada kami.”

Said bin Musayyab Menikahkan Putrinya dengan Abu Wada’ah

Diapun berkata, “Abu Wada’ah bercerita kepada saya, ‘Sebagaimana Anda ketahui, aku adalah seorang yang tekun hadir di Masjid Nawabi untuk menuntut ilmu. Aku paling sering menghadiri halaqah Sa’id bin Musayyab dan suka mendesak orang-orang dengan siku bila mereka saling berdesakan dalam majelis itu. Namun pernah berhari-hari saya tidak menghadiri majelis tersebut. Beliau menduga saya sedang sakit atau ada yang menghalangiku untuk hadir. Beliau bertanya kepada beberapa orang di sekitarnya namun tidak pula mendapat berita tentang diriku.
Beberapa hari kemudian aku menghadiri majelis beliau kembali. Beliau segera memberi salam lalu bertanya,
Sa’id: “Kemana saja engkau, wahai Abu Wada’ah?”
Aku: “Istriku meninggal sehingga aku sibuk mengurusnya.”
Sa’id: “Kalau saja engkau memberi tahu aku wahai Abu Wada’ah, tentulah aku akan takziyah, menghadiri jenazahnya dan membantu segala kesulitanmu.
Aku: “Jazakallahu khairan, semoga Allah membalas kebaikan Anda.”
Aku bermaksud pulang, namun beliau memintaku untuk menunggu sampai semua orang di majelis itu pulang, lalu beliau berkata,
Sa’id: “Apakah engkau saudah berfikir untuk menikah lagi wahai Abu Wada’ah?”
Aku: “Semoga Allah merahmati Anda, siapa gerangan yang mau menikahkan putrinya dengan aku, sedang aku hanyalah seorang pemuda yang lahir dalam keadaan yatim dan hidup dalam keadaan fakir. Harta yang kumiliki tak lebih dari dua atau tiga dirham saja.
Sa’id: “Aku akan menikahkan engkau dengan putriku.”
Aku: (terkejut dan terheran-heran) “Anda wahai Syaikh? Anda akan menikahkan putri Anda denganku padahal Anda telah mengetahui keadaanku seperti ini?”
Sa’id: “Ya, benar. Bila seseorang datang kepada kami dan kami suka kepada agama serta akhlaknya, maka akan kami nikahkan. Sedangkan engkau di mata kami termasuk orang yang kami sukai agama dan akhlaknya. Lalu beliau menoleh kepada orang yang berdekatan dengan kami berdua, dan beliau memanggilnya. Begitu mereka datang dan berkumpul di sekeliling kami, beliau bertahmid dan bershalawat, lalu menikahkan aku dengan putrinya, maharnya uang dua dirham saja.
Aku berdiri dan tak mampu berkata-kata lantaran heran bercampur gembira, lalu akupun bergegas untuk pulang. Saat itu aku sedang shaum hingga aku lupa akan shaumku. Kukatakan pada diriku sendiri: “Celaka wahai Abu Wada’ah, apa yang telah kau perbuat atas dirimu? Kepada siapa engkau akan meminjam uang untuk keperluanmua? Kepada siapa engkau akan meminta uang itu?”
Aku sibuk memikirkan hal itu hingga Maghrib tiba. Setelah ku tunaikan kewajibanku, aku duduk untuk menyantap makanan berbuka berupa roti dan zaitun. Selagi saya mendapatkan satu atau dua suapan, mendadak terdengar olehku ketukan pintu. Aku bertanya dari dalam, “Siapa?” Dia menjawab, “Sa’id.”
Demi Allah, ketika itu terlintas di benakku setiap nama Sa’id yang kukenal kecuali Sa’id bin Musayyab, sebab selama 20 tahun beliau tidak pernah terlihat kecuali di tempat antara rumahnya sampai dengan Masjid Nabawi.
Aku membuka pintu, ternyata yang berdiri di depanku adalah Imam asy-Syaikh Ibnu Musayyab. Aku menduga bahwa beliau mungkin menyesal karena tergesa-gesa dalam menikahkan purtinya lalu datang untuk membicarakannya denganku. Oleh sebab itu aku segera berkata:
Aku, “Wahai Abu Muhammad, mengapa Anda tidak menyuruh seseorang untuk memanggilku agar aku menghadap Anda?”
Sa’id: “Bahkan, engkaulah yang lebih layak didatangi.”
Aku: “Silakan masuk!”
Sa’id: “Tidak perlu, karena aku datang untuk suatu keperluan.”
Aku: “Apa keperluan Anda wahai Syaikh? Semoga Allah merahmati Anda?”
Sa’id: “Sesungguhnya putriku sudah menjadi istrimu berdasarkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak tadi pagi. Maka aku tidak ingin membiarkanmu berada di tempatmu sedangkan istrimu di tempat yang lain. Oleh sebab itu kubawa dia sekarang.”
Aku: “Aduh, Anda sudah membawanya kemari?”
Sa’id: “Benar.”
Aku melihat ternyata istriku berdiri di belakangnya. Syaikh menoleh kepadanya lalu berkata, “Masuklah ke rumah suamimu dengan nama Allah dan berkah-Nya!”
Pada saat istriku hendak melangkah, tersangkut gaunnya sehingga nyaris terjatuh. Mungkin karena dia malu. Sedangkan aku hanya bisa terpaku di depannya dan tidak tahu harus berkata apa. Setelah tersadar, segera akan aku ambil piring berisi roti dan zaitun, kugeser ke belakang lampu agar dia tidak melihatnya.
Selanjutnya aku naik jendela atas rumah untuk memanggil para tetangga. Mereka datang dengan kebingungan sambil bertanya, “Ada apa wahai Abu Wada’ah?” Aku bertanya, “Hari ini aku dinikahkan oleh Syaikh Sa’id bin Musayyab, sekarang putrinya itu telah dibawa kemari. Kuminta kalian agar menghibur dia sementara aku hendak memanggil ibuku sebab rumahnya jauh dari sini.”
Ada seseorang wanita tua di antara mereka berkata, “Sadarkah engkau dengan apa yang engkau ucapkan? Mana mungkin Sa’id bin Musayyab menikahkan engkau dengan putrinya, sedangkan pinangan al-Walid bin Abdul Malik putra Amirul Mukminin telah ditolak.”
Aku katakan, “Benar, Engkau akan melihatnya di rumahku. Datanglah dan buktikan.”
Beberapa tetanggaku berdatangan dengan rasa penasaran hampir tak percaya, kemudian mereka menyambut dan menghibur istriku itu. Tak lama kemudian ibuku datang. Setelah melihat istriku, dia berpaling kepadaku seraya berkata, “Haram wajahku bagimu kalau engkau tidak membiarkan aku memboyongnya sebagai pengantin yang terhormat.”
Aku katakan, “Terserah ibu.”
Istriku dibawa oleh ibuku. Tiga hari kemudian dia diantarkan kembali kepadaku. Ternyata istriku adalah wanita yang paling cantik di Madinah, paling hafal Kitabullah, dan paling mengerti soal-soal hadis Rasulullah, juga paham akan hak-hak suami.
Sejak saat itu dia tinggal bersamaku. Selama beberapa hari ayah maupun keluarganya tidak ada yang datang. Kemudian aku datang lagi ke halaqah Syaikh di masjid. Aku memberi salam kepadanya. Beliau menjawab, lalu diam. Setelah majelis sepi, tinggal kami berdua, beliau bertanya,
Sa’id: “Bagaimana keadaan istrimu, wahai Abu Wada’ah?”
Aku: “Dia dalam keadaan disukai oleh kawan dan dibenci oleh musuh.”
Sa’id: “Alhamdulillah.”
Sesudah kembali ke rumah, kudapati beliau telah mengirim banyak uang untuk membantu kehidupan kami…”
Mendengar kisah itu, putra-putra Abdul Malik berkomentar, “Sungguh mengherankan orang itu.” Orang yang bercerita itu berkata, “Apa yang mengherankan wahai tuan? Dia memang manusia yang menjadikan dunianya sebagai kendaraan dan perbekalan untuk akhiratnya. Dia membeli untuk diri dan keluarganya, akhirat dengan dunianya. Demi Allah, bukan karena beliau bakhil terhadap putra Amirul Mukminin dan bukannya beliau memandang bahwa al-Walid tidak sebanding dengan putrinya itu. Hanya saja beliau khawatir putrinya akan terpengaruh oleh fitnah dunia ini.
Beliau pernah ditanya oleh seorang kawannya, “Mengapakah Anda menolak pinangan Amirul Mukminin lalu kau nikahkan putrimu dengan orang awam?” Syaikh yang teguh itu menjawab, “Putriku adalah amanat di leherku, maka kupilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya.”
Beliau ditanya, “Apa maksud Anda wahai Syaikh?”
Beliau berkata, “Bagaimana pandangan kalian bila misalnya dia pindah ke istana Bani Umayah lalu bergelimang di antara ranjang dan perabotnya? Para pembantu dan dayang mengelilingi di sisi kanan dan kirinya dan dia mendapati dirinya sebagai istri khalifah. Bagaimana kira-kira keteguhan agamanya nanti?”
Ketika itu ada seseorang dari Syam berkomentar, “Tampaknya kawan kalian itu benar-benar lain dari yang lain.” Lalu laki-laki itu berkata, “Sungguh aku mengatakan yang sebenarnya. Beliau suka shaum di siang hari dan shalat di malam hari. Sudah hampir 40 kali beliau melaksanakan haji dan tak pernah ketinggalan melakukan takbir pertama di masjid Nabawi sejak 40 tahun yang silam. Juga tak pernah melihat punggung orang dalam shalatnya selama itu, karena selalu menjaga shaf pertama.
Kendati ada peluang bagi beliau untuk memilih istri dari golongan Quraisy, tetapi beliau lebih mengutamakan putri Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu daripada wanita lain. Karena kedudukannya di sisi Rasulullah dan memiliki kekayaan mengenai riwayat hadis, yang beliau ingin juga mengambilnya. Sejak kecil beliau telah bernadzar untuk mencari ilmu.
Beliau mendatangi rumah istri-istri Rasulullah untuk memperolah ilmu dan berguru pada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar serta Abdullah bin Abbas. Beliau mendengar hadis dari Utsman, Ali, Suhaib dan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang lain. Beliau berakhlak dengan akhlak mereka dan berperilaku seperti mereka. Beliau selalu mengucapkan suatu kalimat yang menjadi slogannya setiap hari: “Tiada yang lebih menjadikan hamba berwibawa selain taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tiada yang lebih membuat hina seorang hamba dari bermaksiat kepada-Nya.”

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009
Silahkan Dilanjutkan >>

Qonaah Pintu Kebahagiaan

Sahabat..! Dalam menjalani hidup yang sementara ini, mestinya program kita, bukanlah ”bagaimana untuk kaya, bagaimana untuk terkenal, bagaimana untuk puas, bagaimana untuk tampil cantik mempesona, bagaimana untuk nampak tampan” .
Namun mestinya yang harus dipikirkan dalam hidup ini, ”bagaimana bisa mencari ilmu agama sebanyak-banyaknya? Bagaimana bisa mendapatkan dan menguasai ilmu agama? Bagaimana bisa menjaga aqidah dan agama islam sampai mati? bagaimana bisa benar dalam ibadah? Bagaimana agar tidak sebatas ibadah wajib saja melainkan menambahnya dengan amalan sunnah? bagaimana cara mengetahui harta yang halal? Bagaimana cara mendayagunakan harta secara benar? Itulah yang seharusnya senantiasa menjadi program kehidupan kita.
Semua orang pasti pengen kaya….. namun kenyataannya, masih banyak juga yang miskin. Memang benar KAYA belum tentu senang. Namun Miskin udah pasti sengsara…..betul ga??? Hehehehe
Jujur…..Memang berat untuk menjalani hidup sebagai dhuafa’. Tapi bukan berarti hanya berhenti sampai di situ. Tidak ada alasan bagi si miskin untuk berputus asa.
Yakinilah…..Rizqi Allah sangatlah luas. Rizqi bukanlah terbatas pada rumah yang kita bangun di mana-mana, atau pada mobil-mobil yang disimpan di garasi, dan bukan juga segudang emas, atau uang yang kita tumpuk-tumpuk. Melainkan rizqi adalah sesuatu yang kita butuhkan, yang membuat kita bahagia saat mendapatkannya.
Yakinilah ……Kaya belum tentu mulia di hadapan Allah….miskin belum tentu hina dihadapan Allah…. Jujur…..Bahagia bukan hanya terletak pada DUIT saja….
Buat apa duit banyak, bila tinggal di daerah konflik, seperti di Gaza, yang tiap menit ada dentuman suara bom? Mau?
Buat apa duit banyak, bila tinggal di ruang ICU RS. Pertamina Pusat ? mau?
Buat apa duit banyak, bila hasil korupsi, seperti para pejabat yang sekarang di krangkeng oleh KPK ? Mau? kalau mau direnungi....
Saat kita haus dan ada teman yang menawari kita minum………..
Saat kita lapar dan istri kita sudah memasakkan untuk kita………
Saat kita pulang dan anak-anak/keluarga kita menyambut dengan senyum bahagia………
Saat kita kelelahan berjalan dan ada seseorang yang datang memberi tumpangan…………..
Saat kita buta dan tidak tahu arah dan ada seseorang yang menuntun kita pada hidayah………..  Saat kita butuh bimbingan dan bertemu dengan guru yang luar biasa…………….
Saat kita bersedih, ada teman yang menghibur kita………………..
Kalau mau jujur….. itu semua bagian dari rizqi yang besar dari Allah. Oooh…….
Sebenarnya kita adalah orang yang sangat kaya akan rizqi Allah, namun terkadang tidak menyadarinya…. Ehem… syukurlah kalau sudah mengerti…..Ya…. Sering kali kita dipusingin oleh satu jerawat yang ada di wajah…. Tanpa melihat, betapa Tuhan telah mencipta kita dengan sempurna? Sesungguhnya Allah tergantung prsangka hambaNya.....
Saat kita berpikir bahwa kita kaya, maka kita tidak akan mengalami susah, walau dalam keadaan hanya tinggal di rumah gubuk dan makan hanya dengan lalapan daun singkong saja. Namun, saat kita berpikir bahwa kita miskin, maka kita akan susah dan terus merasa susah, walau kita tinggal di rumah gedongan dan bergelimang harta.
Al hasil, Qona’ah merupakan sifat yang terbaik yang harus ditumbuhkan dalam hati gunamenjalani hidup….
Al hasil, Berbahagialah orang yang mendapat hidayah islam dan memiliki sifat qona’ah, merasa puas dengan Pemberian dari_NYA, meski rizqinya pas-pasan.
Moga dapat difahami..
Wallahu a’lam.
اللهم اجعل الدنيا تحت أيدينا ولا تجعلها في قلوبناولا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنابجاه المصطفى صلى الله عليه وسلم سيدنا
ISLAM DIDAKTIKA – 16 Maret 2014
islamdidaktika.web.id
www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784
Silahkan Dilanjutkan >>

Mengkaji Diri Lebih Utama Daripada Mengkaji Orang Lain

Sahabat..! kali ini kita bertamasya, melalui samudera luas yang tak bertepi, kalam Allah SWT, lewat pantai 28 surat An Nisaa. artinya : Dan Diciptakan manusia itu dengan penuh kelemahan.
Sahabat.. Tentu banyak hikmah yang harus digali dari watak dasar kita sebagai makhluk berkekurangan itu…
Ya Robb…. Ternyata "lemah" adalah watak dasar kami sebagai manusia.
Manusia itu lemah….. serba kekurangan…. Ga ada yang sampoerna….. hanya rokok doangan kalee…. Islamlah yang menyempurnakan kita… ajaran luhur sang nabilah yang menyempurnakan kita…
Kita ini orang serba kekurangan…. Dho’if….. itulah kita
Jadi, Siapa Sih Yang Sempurna..?
Karenanya….
Yang syirik… tugas kitalah sebagai muslim yang membenarkan aqidahnya….
Yang menceng… tugas kitalah sebagai muslim yang meluruskannya…..
Yang salah… tugas kitalah sebagai muslim yang membetulkannya….
Yang berkurangan…. Tugas kitalah sebagai muslim yang menyempurnakannya…
Al hasil….Jangan menghina cacat yang ada pada orang lain.
Jika cacat tersebut terdapat dalam akhlak dan agamanya, bantulah ia untuk memperbaikinya. …Jika cacatnya pada fisiknya, beradablah kepada yang telah menciptakannya... sebab engkau seakan akan menghina Tuhannya.. yang juga Tuhan Engkau juga bukan….

Dari semua itu…….Seburuk apapun kelakuan orang lain, sejelek apapun perbuatan orang lain….. sebejat apapun tingkah polah orang lain…….kalau mau diinsafi, Tidak ada gunanya merasa diri lebih baik darinya….. penilaian akhirnya bukankah di tangan Allah.. dan itu masih misterius, masih belum engkau ketahui….. jangan jangan dia di mata Allah lebih mulia dibanding kita…
Sadarilah…. Waktumu hanya sekali tinggal di dunia ini…. Mulai sekarang…  marilah… kita Berhenti melakukan kesalahan dan mencari-cari kesalahan orang lain, berhentilah memperbincangkan kesalahan orang lain…Dengan begitu , waktu yang ada fa in sya Allah, dapatlah kita gunakan dan diri kita sibukkan dengan membenahi kesalahan kita sendiri. Membenahi kekurangan kita…
Jujur….Seburuk apapun kelakuan orang lain, kita tidak akan ditanyai di akhirat tentang perbuatannya….. kjustru yang kita akan ditanyai adalah perbuatan yang kita lakukan….

Akhirnya, sebagai penutup, kita sama sama membaca firman Allah dalam Surat Al Baqoroh : 134:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Wallahu a’lam bimuroodihi bidzaalik
Moga dapat difahami

ISLAM DIDAKTIKA – 19 Maret 2014
islamdidaktika.web.id
www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784
Silahkan Dilanjutkan >>

Tauladan Sang Rasulullah SAW

Islam Didaktika - 15 Maret 2014

Sahabat..! Beruntung orang yang mentauladani manusia luhur yang diluhurkan oleh Dzat Yang maha luhur…….moga kita semua diluhurkan oleh Allah…..

Kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala tiada terkira. Ragam makanan dan minuman sangat bervariasi. Kewajiban seorang muslim, menghargai nikmat-nikmat tersebut dan mensyukurinya. Kendatipun makanan yang tersedia sepele, celaan tidak layak muncul dari bibir seorang muslim. Demikian juga, ketika makanan atau minuman tidak menggugah selera, atau mengundang ketidaksukaan, karena cita- rasanya yang kurang tajam, bentuknya yang tidak menarik, atau bahan-bahannya yang dirasa tidak bergizi, cacian tetap saja tidak cocok untuk dikeluarkan.

Keteladanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini, beliau tidak pernah mengeluarkan komentar miring sekalipun terhadap masakan atau makanan yang boleh dimakan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻋَﺎﺏَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻃَﻌَﺎﻣًﺎ ﻗَﻂُّ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali.
[HR al-Bukhâri dan Muslim].

Berbeda dengan makanan haram, beliau melancarkan celaan padanya. Bahkan melarang keras mengkonsumsinya, baik haram dari segi dzatnya maupun haram karena caranya. Apabila makanan yang dihidangkan beliau sukai, maka beliau menyantapnya. Sedangkan sikap beliau saat menghadapai jamuan yang tidak menarik hati, beliau tidak menjamahnya dengan tanpa mengeluarkan komentar miring apapun terhadapnya.

ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺷْﺘَﻬَﻰ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺮِﻫَﻪُ ﺗَﺮَﻛَﻪُ
Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Sikap di atas merupakan keagungan dan keluhuran akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau menghormati perasaan orang yang telah memasak atau membuatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka mencela hasil kerja orang yang membuatnya sehingga dapat menyakiti hatinya. Sisi lain, tidak menutup kemungkinan, ada orang lain yang menyukai makanan tersebut. Hadits di atas juga, mengajarkan sikap ksatria dalam menghadapi makanan yang tidak disuka, yaitu dengan cara tidak menyentuh dan meninggalkannya.
Selain itu, bentuk penghargaan lain terhadap makanan, walaupun tidak selalu dilakukan, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji makanan- makanan. Terdapat suatu riwayat ; Beliau bertanya kepada keluarganya tentang lauk yang tersedia. Keluarga beliau menjawab:
ﻣَﺎ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺧَﻞٌّ ﻓَﺪَﻋَﺎ ﺑِﻪِ ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ
"Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka," maka beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata:
ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﺄُﺩُﻡُ ﺍﻟْﺨَﻞُّ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﺄُﺩُﻡُ ﺍﻟْﺨَﻞُّ
"Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka". [HR Muslim].
Pujian sebagaimana hadits di atas bisa bermakna pujian kepada obyek makanan, dan juga bisa ditujukan untuk menghibur keluarga. Tetapi, tidak berarti pengutamaan cuka di atas segala makanan.

Begitulah sekelumit kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan makanan, yang menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Beliau tidak mencela dan selalu bersikap qanâ'ah (menerima) dengan apa yang tersedia.
Agar lebih jelas dan mudah dicerna ajaran sang Nabi, oleh kita orang yang masih awam, ada baiknya kita mengikuti cerita keluarga mini yang telah berhasil meneladani akhlak Nabi, berikut ceritanya :

Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam utk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi. Sayangnya krn mengurusi adik yg merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong! ... Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tdk bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sdh habis. Kami menunggu dgn tegang apa reaksi ayah yg pulang kerja pasti sdh capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong. Luar biasa! Ayah dgn tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dgn tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!" Lalu ayah terus menanyakan kegiatan sy & adik di sekolah. Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf krn telor & tempe yg gosong itu & satu hal yg tidak pernah saya lupakan adalah apa yg ayah
katakan: "Sayang, aku suka telor & tempe yg gosong." Sebelum tidur, sy pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah, saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur & tempe gosong?" Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya & berkata, "Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sudah capek, Jadi sepotong telor & tempe yg gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!"
Ini pelajaran yg saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yg sangat penting utk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi.
Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadilah orang yang selalu berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri. Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti.

Moga dapat difahami
Wallahu a’lam.

Silahkan Dilanjutkan >>

Vitamin Kehidupan

Sahabat..! Bagi yang merasa bosan hidup…… bagi yang stres karena lama tak punya keturunan… bagi yang usaha gagal terus…..bagi yang merasa hidup tak berarti….. tak ada salahnya, bacalah pelan-pelan…. Hayati…. Renungkanlah……  berbahagialah mereka yang telah meminum Racun kehidupan yang telah diracik oleh ulama besar srilangka ini. Moga engkau dapat menangkap pesan ini…..

Konon, Seorang pria mendatangi Seorang Ulama, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati. Bosan rasanya saya hidup”
Sang guru, “Oh, kamu sedang sakit jiwa?.”
Pria itu menjawab : “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu itu sakit. Dan penyakitmu itu dalam istilah agama sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”

Saudaraku..! Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang- surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah.
Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

Sang guru terus bertutur : saudaraku, “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian sang Guru. “Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang guru. “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” tanya sang guru “Ya, memang saya sudah bosan hidup.” jawabnya. Mendengar perkataan itu, sang guru berujar :“Baik, kalo memang benar benar engkau ingin mati, yakini, besok sore kamu akan mati. asal kamu mengikuti arahan saya. bagaimana caranya : tanyanya kepada sang guru. begini, kata sang guru : Caranya, Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Kini, Giliran dia menjadi bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Kemudian ia pamitan dan Pulang kerumah, Sesampainya di Rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Guru edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Begitu rileks, begitu santai!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran yang teramat terkenal. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku salah. “Maafkan aku, sayang.” Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.

Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, Ayah selalu stres karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.” Pria itu mengucapkan terima kasih dan
menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!! Hidup…bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul, tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati.
Wallahu a’lam.

Duhai sahabat…! berbahagialah engkau ……… karena engkau dapat menangkap dari pesan dalam cerita ini…. Moga Allah senantiasa membuka mata kalbu kita... agar hidup betul betul terasa hidup....aamiin.

Sumber :
TAMAN HIKMAH DAN ILMU Islam Didaktika
www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784

Relasi :
http://islamdidaktika.web.id/
http://fakhrualbantani.blogspot.com/

Silahkan Dilanjutkan >>

Lisan kita ... Murka-Nya atau Ridho dan Rahmat-Nya

Kita Jaga Lisan ini...

Assalamualaikum Wr. Wb.

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.
Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semaunya sendiri. Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan.
Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)


Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.
Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.  Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan.
Sungguh betapa besar bahaya lisan. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092).

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda. “Artinya : Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ?
Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.
‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.
Memang lisan tidak bertulang.
Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya.
Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
  • Anas bin Malik:
    “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
  • Abu Ad-Darda’:
    “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
  • Al-Ahnaf bin Qais:
    “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
  • Abu Hatim:
    “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara).
    Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
  • Yahya bin ‘Uqbah:  "Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.” Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat.
Di antaranya:
  1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
  2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya. Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab: “Orang Islam yang paling utama adalah orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42) Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)
  3. Mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke surga. Rasulullah bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d : “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)
  4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan.memberikan ridha-Nya kepadanya. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Bukhari : “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092). Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan.
Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

Wallahu a’lam
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Semoga memberi manfaat bagi kita bersama, agar selamat dan sejahtera hidup didunia, lagi khususnya kelak diakhirat nanti. Aamiin ya robbal 'alaamiin...
(Dikutip dari berbagai sumber)
__________________________________________________
Sahabat..!
sudahkah kalian berkunjung ke TAMAN HIKMAH islam didaktika
www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784
http://islamdidaktika.web.id/
http://fakhrualbantani.blogspot.com/
Di sana nampak banyak bunga warna warni yang layak untuk dipetik demi menjadi hiasan kehidupan di dunia nyata.
Silahkan Dilanjutkan >>