Senin, 10 November 2014

Selamatkan Hati Dalam Penghambaan

Sahabat..! Berkata Imam Ibnu Athoillah dalam kitab “Tajul ‘Arus”nya : Anggota badan manusia ibarat anak air yang mengalir ke hati. Janganlah menyiram hatimu dengan perbuatan hina seperti ghibah, namimah, perkataan kotor, melihat yang tidak halal, dan sejenisnya. Hati tidak dihijab oleh yang keluar darinya, tetapi dihijab oleh yang memasukinya. Hati akan bersinar dan bercahaya dengan makanan yang halal, dzikir, bacaan Al-Qur’an, pemeliharaan diri dari melihat sesuatu yang mubah, makruh, dan terlarang. Janganlah membuka mata kecuali untuk menambah ilmu atau hikmah…”-

Sungguh celaka jika manusia mengutamakan ibadah lahiriah yang dilakukan anggota tubuh, tetapi melupakan ibadah bathiniyyah/ketakwaan hati. Amal lahiriah tidak bermanfaat jika hati dalam keadaan lalai.Imam Ibnu Athaillah memberikan perumpamaan tentang hati dalam hubungannya dengan anggota tubuh. Hati bisa mendapat pengaruh buruk dari anggota tubuh sehingga hati terhijab dari Allah meskipun sesungguhnya yang menjadi pimpinan dalam diri manusia adalah hati.

Anggota tubuh laksana anak sungai yang tumpah mengalir ke hati. Apabila anak sungainya dipenuhi najis maka hati ikut menjadi najis.
Sebaliknya, hati yang baik dan sehat akan melahirkan kehendak yang baik sehingga hamba kembali kepada fitrahnya dan tubuh pun kembali kepada keadaan azalinya.

Beberapa jalan yang dapat ditempuh jika menghendaki hati yang bersinar dan bercahaya : [1] memakan makanan dan minuman yang halal, yang berasal dari usaha yang baik dan bebas dari syubhat; [2] Berdzikir;
[3] membaca Al-Qur’an.

Ada beberapa macam najis maknawi yang akan mengotori dan merusak keadaan hati, di antaranya :

Ghibah (menggunjing)
Namimah (mengadu domba), yaitu menyampaikan satu ucapan dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan mereka.

Berkata buruk, yaitu ucapan yang mengandung kesombongan, kedengkian, dan rasa iri.

Melihat segala sesuatu yang tidak halal, karena ini bertentangan dengan perintah Allah :
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…”(QS [24]:30-31);

Bukti bahwa perbuatan semacam itu mempengaruhi hati adalah sabda Rasulullah Saw : “Tatapan adalah salah satu panah beracun Iblis. Siapa yang menjaganya, Allah akan memberinya keimanan yang manisnya dapat dirasakan dalam hati.”

Menjaga diri dari melihat yang mubah, makruh, dan haram, jelasnya seorang mukmin harus mempergunakan penglihatannya sesuai dengan ridha Allah. Sikap tersebut merupakan bentuk syukur kepada Allah atas nikmat penglihatan. Sesungguhnya melihat yang mubah tidak terlarang. Namun, ketika melihat yang mubah akan melalaikan diri dari kewajiban, atau membuatnya menunda-nunda shalat, atau membuat hati menjadi lalai maka dalam keadaan seperti itu menghindari yang mubah menjadi lebih utama. Jadi, hati yang baik akan terus tumbuh menjadi hati yang bersinar dan bercahaya.

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat.

Relasi : www.islamdidaktika.web.id

Kamis, 09 Oktober 2014

MULIAKANLAH IBU MU ...

Sahabat..! Karena doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu…!!!

Dengan mengingat Ibu, hati kita jadi menangis, Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.


BUKANLAH tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kenapa ? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.


Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.


Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.


Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.


Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.


Wallahu a'lam.


Referensi Taman Ilmu dan Hikmah :
https://www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784?fref=nf
www.islamdidaktika.web.id

BERTOBATLAH HINGGA BOSAN BERBUAT DOSA

Sahabat..! Baginda kita Rasulullah saw pernah bersabda "Beramallah dari amal amal semampu kalian, sungguh Allah swt tidak pernah bosan hingga kalian sendirilah yang bosan".

Para arifbillah kerap menangis mendengar hadits ini. Hadits ini sangat indah, sebuah kabar dari Rasulullah saw kepada kita yang mengisyaratkan ternyata Allah itu sangat sayang kepada kita.

Innallaha la yamallu hatta tamalluu (HR> Al Bukhari)
Sungguh Allah tiada akan pernah bosan sampai kalian sendiri yang bosan).
Lalu, Apa maksud dari hadits ini?

Maksudnya adalah bahwa Allah itu tak pernah bosan untuk menunggu taubat kita, Allah terus menunggu dan menunggu hamba-Nya untuk kembali bertaubat tetapi kitalah hamba-hamba-Nya yang justru bosan untuk bertobat kepada-Nya.

Setiap pendosa siapapun dia yang ingin selalu bertaubat, Allah tidak akan bosan untuk menerima taubatnya, sebesar apapun dosanya.

Setiap orang yang bersalah memohon maaf kepada Allah, Allah tidak akan bosan memaafkannya. Kita ini makhluk lemah, siang malam berbuat dosa maksiat, namun Allah tidak akan bosan mendengar doanya.

Hamba yang beribadah siang dan malam, Allah tiada akan pernah bosan untuk menerima ibadah hamba-Nya. Manusia memiliki sifat bosan.

Kita ini bukan nabi yang ma’sum dan bukan pula malaikat yang suci, kita manusia biasa, selalu kalah dari hawa nafsu, pernah melakukan dosa, kita selalu berbuat dosa dan Allah Maha memaklumi hal itu, yang penting apa? yang penting kita mengakui itu, kita akui semua dosa-dosa kita kepada Allah swt. Kita akui segala kelemahan kita dalam melawan hawa nafsu. Kita berusaha untuk bertobat dengan sungguh sungguh menyesali dosa, lalu setelah tobat misalnya kita tergelincir lagi, maka bertobatlah, berdosa lagi bertobatlah lagi, Allah tidak bisa bosan menerima taubat hamba Nya,
karena Allah Maha Tahu Hamba Nya selalu akan berbuat dosa kecuali para Nabi dan Rasul.

Taubat yang sebenarnya adalah menyesali dosa, tak pernah merasa bangga melakukannya apalagi sampai bercerita kesana-sini dengan bangganya. Meminta ampun dan maaf pada Allah, lalu bertekad semampunya untuk tak lagi mengulangi dosa, namun boleh saja sambil berdoa : Wahai Allah, aku bertekad tak lagi mengulangi dosa ini, namun diriku ini penuh kelemahan, aku tak berniat berbuat lagi, namun jika aku terjebak lagi maka itu dari kelemahanku, ampunkan aku wahai Allah, maka aku akan bertobat lagi pada Mu wahai Allah, aku akan buktikan bahwa aku selalu setia pada Mu wahai Allah.

Kita mungkin masih ingat akan syair Abu Nuwas.

"Wahai Tuhanku… aku sebenarnya tak layak tuk masuk surgamuMU, tapi aku juga tak sanggup menahan amuk nerakamu, Karena itu mohon terimalah taubatku ampunkan dosaku, Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar.

Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir, Maka berilah ampunan oh.. Tuhanku Yang Maha Agung. Setiap hari umurku terus berkurang, Sedangkan dosaku terus menggunung. Bagaimana aku menanggungnya.

Wahai Tuhan, hambaMU yang pendosa ini, Datang bersimpuhkehadapanMU. Mengakui segala dosaku, Mengadu dan memohon kepadaMU, Kalau Engkau ampuni itu karena, Engkau sajalah yang bisa mengampuni. Tapi kalau engkau tolak, kepada siapa lagi kami memohon Ampun selain kepada Engkau.”

Kita ini layaknya selalu bertobat hingga bosan berbuat dosa, bukan selalu berdosa hingga bosan bertobat.

Yang tidak boleh apa? yang tidak boleh adalah sudahlah berbuat dosa namun tak pernah sadar, tak pernah mau bertaubat, malah merasa bangga dengan perbuatan dosanya itu, ini kesombongan.

Semoga Allah menjaga kita dari sifat sombong. Aamiin.
Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam.


Referensi :
https://www.facebook.com/pages/Islam-Didaktika/226224114114784?fref=nf

About

">